3. tahun dan merupakan lulusan S1 Akuntansi. Ibu dari

3. Informan MBerikutnya adalah informan yang berinisial M dan menjadi seorang ibu rumah tangga yang bertempat tinggal di wilayah P. Saat ini, M berusia 37 tahun dan merupakan lulusan S1 Akuntansi. Ibu dari keempat anak ini menceritakan bahwa pertama kali mengenal suami karena satu divisi dalam kantor yang sama, namun memiliki pekerjaan yang berbeda. Kesan pertama yang dilihat oleh M terhadap suami adalah baik. Perkenalan pada bulan Maret 2010 membuat M dan suami menjadi dekat berdasarkan adanya sifat saling menghargai satu sama lainnya. Memutuskan untuk menikah pada bulan Agustus 2010, dan akhirnya pernikahanpun berlangsung pada Maret 2011. Namun permasalahan pertama muncul ketika mereka sudah menikah, memiliki anak pertama, dan mengontrak rumah, dia bercerita,Mungkin kalo perubahan sikap sih yang paling keliatan setelah kita ngontrak rumah sendiri ya. Itu di tahun 2012 setelah dia (putri pertama) lahir ya. Kan setelah kita nikah itu tinggal sama orang tua saya di J. Cuma pas begitu anak pertama saya lahir, kita mutusin ngontrak. Yaudah ngontrak di sana, baru mulai sering pulang jam 10 malem, jam 12 malem. Lama-lama jam 4 pagi (Wawancara 21 Juni 2017 di Kantor P2TP2A).Berawal dari seringnya suami pulang malam ketika sudah mengontrak sendiri, sifat kasarpun mulai ditunjukkan oleh suami. Dia mengatakan,Awal mulanya itu (karena pulang malam). Kalau kasar mungkin ketika di rumah kontrakan juga sih. Mungkin ketika saya sudah berhenti kerja, terus saya nanyain permasalahan hutang. Disitu saya bertanya, “Masih ada berapa sih hutang-hutang dari persiapan kita nikah sampai dia (putri pertama) keluar,” itu tuh kalo udah menanyakan masalah uang itu yang pertama diem aja gak dijawab. Lama-lama kok responnya nadanya kenceng gitu (Wawancara 21 Juni 2017 di Kantor P2TP2A).Perubahan sikap tersebut ternyata akibat dari adanya pihak ketiga dalam kehidupan rumah tangga mereka. Pihak ketiga tersebut merupakan seorang anak dibawah umur yang bekerja sebagai Pekerja Seks Komersial (PSK). Selain itu, suami M seringkali tidak pulang ke rumah dengan alasan sedang lembur, bahkan sampai berbulan-bulan tidak pulang dan M jarang sekali diberi nafkah. Hal ini membuat M selalu menerima kekerasan dari segi psikis dan ekonomi selama enam tahun pernikahannya.4. Informan TSTSelanjutnya merupakan informan yang berinisial TST dan telah berusia 49 tahun. TST bertempat tinggal di BD dan merupakan lulusan S1 pada jurusan Administrasi. Untuk menghidupi dirinya dan anaknya, dia bekerja sebagai pedagang pakaian. TST menceritakan bahwa suaminya merupakan rekan dari kakaknya sendiri yang cenderung penurut, baik, dan pendiam. Akhirnya TST dan suami berpacaran selama tiga bulan sebelum memutuskan untuk menikah pada tahun 1998. Namun keputusan untuk menikah tersebut merupakan desakan dari orang tua dan kakaknya hingga membuat TST merasa takut. Dia menceritakan,Yaa gini ya, karena diiniin (ditekan) sama Mamak saya juga. Sebenernya pilihan saya sendiri juga ya kurang bener juga ya. Karena Mamak saya juga bilang, “Nanti tuh dia (suami) kasihan udah dateng terus,” teruskan saya suka pergi sama kakak saya, terus kakak saya, “Lihat tuh kamu udah berumur.” Jadikan ketakutan juga saya begitu. Terus Mamak saya akhirnya, “Itu kasihan dia (suami) datang-datang terus,” gitu (Wawancara 21 Juni 2017 di Kantor P2TP2A).Akibat dari desakan orang tua dan kakaknya, TST harus menerima kekerasan secara seksual di hari pertama menikah. Dia mengatakan,Married satu hari itu udah ketahuan galaknya. Waktu pacaran enggak ketahuan sifat jahatnya. Terus, kan, malem pertama lagi menstruasikan ya, dia pake juga. Kita bilang jangan, tapi ya tetep aja dia begitu. Saya kalo mau berhubungan intim sama dia tuh takut gara-gara itu (Wawancara 21 Juni 2017 di Kantor P2TP2A).Berawal dari mendapatkan kekerasan seksual tersebut, kurang lebih selama 19 tahun usia pernikahannya, TST selalu mendapatkan kekerasan fisik, psikis, dan ekonomipun kerapkali dia terima. Selain itu, TST juga harus menerima bahwa suaminya telah selingkuh dengan perempuan lain.5. Informan AInforman terakhir merupakan seorang ibu rumah tangga berinisial A yang bertempat tinggal di wilayah P. Dia merupakan ibu dari dua orang anak yang kini tengah menyelesaikan studi S1nya pada Jurusan Psikologi di salah satu universitas swasta di wilayah D. A pada tahun ini baru menginjak usia 25 tahun dan memiliki usaha pada bidang kuliner. A menceritakan bahwa awal mula kenal dengan suami di lingkungan indekos yang berada di belakang kampusnya yang dikenalkan oleh para senior-seniornya. Dia mengaku bahwa suaminya termasuk orang yang pendiam yang hanya mau mengobrol dengan teman-teman akrab yang seangkatan dengannya. Setelah proses perkenalan dan berteman tersebut, akhirnya A dan suami memutuskan untuk berpacaran selama satu tahun lebih. Selama masa-masa pacaran tersebut, permasalahan yang sering muncul disebabkan karena suaminya suka mengulur-ulur waktu.A menceritakan bahwa menikah dengan suaminya tersebut dikarenakan mendapat tekanan dan paksaan dari ayahnya karena pada saat itu, A telah hamil di luar nikah. Saat mengetahui dirinya hamil, dia kabur dari rumah dan tinggal di rumah sahabatnya. Ketika A melahirkan dan tersendat pada permasalahan biaya persalinan cesar, akhirnya teman-teman A meminta bantuan kepada Ayah A. Namun, Ayah A menolaknya dan membuat A harus turun tangan langsung. Akhirnya, A dijemput oleh ayah serta adiknya dan sesampainya di rumah A dimarahi habis-habisan. Karena pernikahannya diundur-undur oleh suaminya dengan alasan ingin wisuda dan bekerja terlebih dahulu, akhirnya Ayah A memberikan mandat ke suami harus menikahi A pada bulan Mei 2015 dan tidak perlu memikirkan biaya apapun.Selain hamil di luar nikah, A mengakui bahwa suaminya telah selingkuh dari dirinya. Selingkuhannya tersebut merupakan teman suaminya dan sudah memiliki suami sendiri. A mengaku telah mengenali selingkuhan suaminya. A mengatakan,Ya tahulah, orang dia (selingkuhan suami) pernah dateng ke rumah minta maaf. Kan saya bukan tipe orang yang dateng, kita marah-marah, terus kita usir, enggak. Aku suruh masuk, dia minta maaf tuh nangis-nangis bulan November. Desember awal malah cuti tuh berdua liburan ke B (Wawancara 22 Juni 2017 di Kantor P2TP2A). Akibat dari selingkuh tersebut, suaminya menjadi jarang pulang ke rumah dan akhirnya menelantarkan A dan anak-anaknya. Selain mendapatkan kekerasan dari segi ekonomi, A juga seringkali mendapat kekerasan secara psikis ketika dirinya melakukan sedikit kesalahan, maka suaminya akan marah-marah.Berikut ini merupakan ringkasan kekerasan dalam rumah tangga yang diterima oleh kelima informan yang telah bersedia untuk membagikan pengalamannya selama berumah tangga dengan suaminya yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga: