Rumah mutu dan mempertahankan standar pelayanan rumah sakit. Dalam

Rumah Sakit mengalami tantangan baik dalam kualitas
pelayanan maupun pada pola pembayaran pelayanan kesehatan.Era JKN dewasa ini
pola pembayaran pelayanan kesehatan telah menggunakan sistem paket casemix berdasarkan INACBG. Tantangan
dan risiko tersebut menjadi peluang dalam melakukan perbaikan pengelolaan
proses pelayanan serta sumber daya secara efisien dan efektif namun tetap
memprioritaskan mutu dan keselamatan pelayanan kepada pasien. (Sakti & Negara, 2015).

Rumah sakit sebagai
institusi pelayanan kesehatan menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan
secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat
darurat (PerPres No 77 Thn 2015).Penyelenggaraan pelayanan Rumah Sakit menurut
Undang-undang  No. 44 Thn 2009 memberikan
perlindungan terhadap keselamatan pasien dan 
masyarakat dengan meningkatkan mutu dan mempertahankan standar pelayanan
rumah sakit. Dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan tersebut rumah sakit memiliki
berbagai kompleksitas permasalahan yang tinggi terkait prosedur, resiko
infeksi, kecelakaan , kesalahan pemberian pengobatan, peningkatan biaya,
kekurangan tenaga kerja,  peningkatan kebutuhan
fasilitas kesehatan dan perubahan proses pembayaran.Sehingga diperlukan adanya
pengelolaan keselamatan pasien yang berguna untuk mengurangi tingkat kesalahan
dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Perawat
sebagai  pemberi pelayanan kesehatan mempunyai
kontribusi yang besar dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, karena selain
perawat memberikan asuhan kepada pasien secara langsung juga berpengaruh
terhadap pengendalian biaya perawatan. Pada Peraturan Presiden Republik
Indonesia Nomor 77 Tahun 2015 Pasal 10 menyebutkan bahwa Unsur keperawatan
dalam bertugas melaksanakan pelayanan keperawatan menyelenggarakan
fungsi-fungsi yaitu penyusunan rencana pemberian pelayanan keperawatan,
koordinasi dan pelaksanaan pelayanan keperawatan,  pelaksanaan kendali mutu, kendali biaya, dan
keselamatan pasien di bidang keperawatan serta pemantauan dan evaluasi
pelayanan keperawatan (Sakti& Negara, 2015).

Keselamatan pasien merupakan isu global yang sangat
penting, dimana setiap rumah sakit di tuntut untuk mengikuti standar akreditasi
pelayanan yang berfokus kepada pasien.Keselamatan pasien di rumah sakit menurut
PerMenKes RI No. 1691/VIII/ 2011 adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman yang meliputi assesmen risiko, identifikasi dan
pengelolaan yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi
solusi. Insiden keselamatan pasien yang dimaksud adalah setiap kejadian yang
tidak disengaja dan kondisi yang menyebabkan atau berpotensi mengakibatkan
cedera yang dapat dicegah pada pasien terdiri dari kejadian tidak diharapkan,
kejadian nyaris cedera, kejadian tidak cedera dan kejadian potensial cedera.

Salah satu insiden yang terkait dengan
keselamatan pasien di rumah sakit adalah komunikasi yang tidak efektif dalam
kegiatan handover perawat.Handover adalah komunikasi yang terjadi
antara dua shift perawat dimana tujuannya adalah untuk mengkomunikasikan
informasi tentang pasien yang berada di bawah asuhan perawat.   (Belekoukias, Garza-reyes, & Kumar, 2014)Hasil penelitian
Lee, Phan, Dorman, Weaver, & Pronovost (2016)pada penelitiannya
yang  berjudul Handoffs, safety culture, and practices: evidence from the hospital
survey on patient safety culture dikatakan bahwa informasi handover yang efektif dan tanggung
jawab berpengaruh positif terhadap keselamatan pasien. Umpan balik dan
komunikasi tentang kesalahan berhubungan positif dengan transfer informasi
pasien, kerja sama tim dalam unit dan frekuensi kejadian yang dilaporkan
berhubungan positif dengan pengalihan tanggung jawab pribadi selama perubahan
shift, dan kerja sama tim di seluruh unit berhubungan positif dengan unit
transfer pertanggungjawaban pasien.

Kesenjangan dalam
komunikasi saat handover pasien, antara unit perawatan dan antar tim pelayanan
lain dalam suatu rumah sakit dapat mengakibatkan terputusnya kesinambungan
pelayanan, pengobatan yang tidak tepat serta memungkinkan terjadinya kesalahan
yang beresiko terhadap keselamatan pasien. (WHO, 2007) Hal ini menimbulkan
terjadinya pemborosan yang merugikan perawat dan pasien..

Menurut Younan & Fralic (2013) dalam
penelitian berjudul Using “Best-Fit”
Interventions to Improve the Nursing Intershift Handoff Process at a Medical
Center in Lebanon dikatakan bahwa hambatan yang menyebabkan waste waktu pada handover adalah standarisasi serta prosedur yang tidak memadai,
penyalahgunaan waktu, masalah bahasa, keterbatasan data, komunikasi, lingkungan
yang kurang kondusif, pencahayaan, kebisingan, kurangnya privasi, belum adanya
pelatihan handover, jumlah perawat yang tidak memadai, tim yang kurang solid, multitasking selama laporan, dan interupsi
selama laporan. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan handover perawat sangat berpengaruh terhadap tingkat keselamatan
pasien di rumah sakit. Untuk itu diperlukan transfer informasi yang efektif dan
efisien yang mendukung kontinuitas perawatan dan pengobatan pasien

Dalam menciptakan
budaya perbaikan dan keefektifan dalam handover
perawat,  makadibutuhkan kemampuan pemikiran
yang efektif /lean thinkingpada semua
perawat. Lean thingkingmerupakan
pemikiran yang bertujuan meminimalisasi hal-hal yang tidak perlu atau
pemborosan/waste dan menghasilkan nilai /value
bagi pelanggan. Pendekatan dengan menggunakan lean thinking bertujuan untuk mengidentifikasi pemborosan yang
terjadi selama handover
berlangsung.Metode yang digunakan dalam pendekatan lean thinking menggunakan tahap pembuatan value streaming, mengidentifikasi waste, membuat mapping
dan mencari akar penyebab masalah.Untuk mengimplementasikan leanthinkingbagi semua perawat perlu adanya pengembangan,
pemberdayaan, dukungan, minat dan komitmen dalam meningkatkankualitas pelayanan
dan keselamatan pasien( Aij & Veth, 2017).

Pengembangan
dan pemberdayaan serta minat dapat dilakukan melalui suatu pelatihan. Pelatihan
menurut Robbins (2013) merupakan sesuatu
yang dilakukan dengan mengajarkan kepada karyawan ketrampilan untuk melakukan
suatu program yang berkelanjutan. Pelatihan bersifat formal yang direncanakan
dan memiliki format terstruktur.Namun ada pula pelatihan non formal dimana pelatihan
dilakuan tidak terstruktur, tidak terencana, dan mudah disesuaikan dengan
individu dan situasi untuk meningkatkan ketrampilan dan mempertahankan karyawan
tetap bekerja di suatu organisasi.Pelatihan informal membantu krayawan saling
berbagi, berbagi informasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan
pekerjaan.Metode pelatihan di tempat kerja meliputi rotasi kerja, magang, tugas
penentu, dan program mentoring formal.

Metode pelatihan atau strategi dalam pelayanan
kesehatan untuk mengurangi pemborosan sehingga tercipta efektifitas dan
efisiensi biaya operasional yaitu lean manajemen.Lean Manajemen merupakan salah satu trend terkini yang diterapkan dalam manajemen rumah sakit.Lean manajemen adalah strategi manajemen
yang menekankan dan berfokus pada efisiensi yaitu meminimalkan penggunaan
sumber daya yang tidak menambah nilai hasil atau output, tidak menambah biaya produk tetapi mutu produk meningkat,
sehingga menghasilkan produk yang bermutu (Sofjan Assauri, 2016).

Penerapan pelatihan lean manajemen selaras
dengan teori pembelajaran keperawatan yang menyatakan bahwa Pembelajaran
merupakan pengalaman manusia yang sangat penting sehingga manusia dapat
menggunakan pengetahuannya untuk menjadi kreatif, inovatif , berpikir kritis,
memprediksi masa depan, menjelaskan masa lalu dan menghadapi situasi saat ini.
Teori pembelajaran mengadopsi beberapa teori keperawatan yang dilakukan pada
praktek keperawatan berkelanjutan.Teori pembelajaran mencakup teori
pembelajaran perilaku dan kognitif.(McEwen, Melaine; Willis, 2011)

Konsep Lean merupakan suatu metode yang dirancang untuk mengeliminasi waste atau pemborosan, mengurangi waktu
tunggu, memperbaikiperformance dan
mengurangi biaya. Terdapat beberapa pemborosan yang terjadi pada pelayanan
kesehatan antara lain tata letak barang, pengulangan diagnostik penunjang,
kelalaian, pemberian obat dengan dosis berlebihan, dan transportasi.
Transportasi mencapai bagian prioritas tertinggi yang mempengaruhi kegagalan
penerapan lean manajemen, karena
menyebabkan pemborosan waktu menunggu (Hussain Matloub, 2015).

Lean
manajemen berdampak secara tidak langsung kepada keselamatan pasien. Hal ini
dibuktikan oleh (Mcfadden & Lee, 2016) pada penelitian
yang berjudul  Factors in the Path From Lean to Patient Safety: Six Sigma, Goal
Specificity and Responsiveness Capability  yang menunjukkan hasil bahwa lean manajemen tidak secara langsung
mempengaruhi keselamatan pasien, namun sangat penting berperan terhadap
pelaksanaan Six Sigma yang
menghasilkan peningkatan responsif terhadap pasien. Peningkatan respon tersebut
berakibat meningkatkan keselamatan pasien.Sehingga dapat disimpulkan bahwa
penerapan six sigma dan lean manajemen saling berhubungan dalam
meningkatkan keselamatan pasien.

Keberhasilan
penerapan Lean manajemen yang
didapatkan dari hasil penelitian Aij & Veth, (2017) yang
berjudul  Leadership Requirements for Successful Implementation of Lean
Management in Health Care: A Systematic Review of the Literature adalah
adanya peran kepemimpinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan yang
sukses dalam menerapkan lean manajemen
pada perawatan kesehatan adalah pemimpin yang mempunyai pengetahuan tentang 6
prinsip pilar Lean.Prinsip pilar
Rumah Lean terdiri dari pengembangan
diri, pelatihan karyawan, hoshin
kanri,gemba, nilai-nilai pelanggan dan identifikasi perilaku kepemimpinan,
keterampilan, karakteristik, dan sikap.Suksesnya penerapan lean manajemen juga harus didukung oleh budaya perbaikan secara
terus menerus.

Pentingnya peran seorang pemimpin juga
dinyatakan pada penelitian yang berjudul A
Practical Guide to Applying Lean Tools and Management Principles to Health Care
Improvement Projects.(Canacari, 2012) yang
menjelaskan bahwa seorang pemimpin menggunakan prinsip lean manajemen untuk menghilangkan pemborosan, merampingkan
proses/alur dan melakukan efisiensi biaya. Manajemen Lean diterapkan oleh seorang pemimpin dengan menggunakan
langkah-langkah antara lain mendokumentasikan suatu proses, mengidentifikasi
masalah, dan menggunakan proses pemetaan value
stream untuk melakukan perbaikan. Pemimpin dapat membantu staf
mengidentifikasi masalah dan mencari akar masalah dengan mempertimbangkan
faktor penyebab terkait metode, alat, lingkungan, sumber daya manusia, dan
mesin dengan menggunakan diagram fishbone.Perbaikan
tersebut berfokus kepada peningkatan nilai baik pelanggan internal maupun
eksternal.

Penelitian
yang dilakukan oleh Abuhejleh, Dulaimi & Ellahham (2016) di Uni Emirat Arab didapatkan bahwa
keberhasilan program lean manajemen
juga didukung oleh adanya keterlibatan seluruh karyawan disemua tingkatan,
pemberdayaan karyawan, partisipasi karyawan, kerja tim, dan adanya reward/penghargaan terhadap karyawan.
Penelitian ini dilatarbelakangi adanya 
tantangan pada kebutuhan pasien dan tuntutan pemerintah terhadap suatu
organsasi di bidang kesehatan yang mendorong terciptanya suatu inovasi dibidang
kesehatan. Keberhasilan dari penerapan inovasi tersebut mencakup peningkatan
keamanan dan kepuasan pasien, terciptanya budaya lean manajemen di rumah sakit,mengurangi waktu tunggu pasien  di rawat jalan mencapai 60 menit sehingga
waktu tunggu menjadi 4–6 menit, artinya tingkat kepatuhan waktu meningkat dari
58% menjadi 98%. (Ulhassan, Schwarz, Thor, & Westerlund, 2014).

Hasil penelitian
terkait dapat disimpulkan bahwa penerapan Lean
manajemen sangat berpengaruh positif terhadap keselamatan pasien, efisiensi
keuangan, adanya penghapusan aktivitas yang tidak perlu dilakukan, efisiensi
dibidang peralatan, mengurangi waktu tunggu, keterlibatan karyawan, memperbaiki
performance serta peningkatan kualitas
pelayanan.

Rumah Sakit Carolus
adalah Rumah Sakit tipe B yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan,
dan gawat darurat. Pelayanan rawat inap adalah bagian dari pelayanan Rumah
sakit yang memiliki kompleksitas permasalahan karena memberikan pelayanan
asuhan pada pasien secara  berkelanjutan.
Pelayanan rawat inap melibatkan berbagai departemen dan praktisi kesehatan
dalam pemberian asuhan yang berkesinambungan.Untuk mewujudkan asuhan pasien
yang berkesinambungan, diperlukan koordinasi antara para dokter, perawat dan
tenaga kesehatan lainnya.

Dari hasil wawancara
dengan komite keperawatan, didapatkan informasi bahwa penelitian tentang Lean manajemen belum pernah dilakukan di
RS St Carolus. Penelitian ini juga dilakukan untuk mengidentifikasi leanmanajemen  yang digunakan perawat dalam efektifitas handover.Dengan harapan hasil penelitian
ini dapat digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan keselamatan pasien.

1.     
 

1.1.     
 

A.     
Rumusan
Masalah :

        Sejak awal tahun 2017 Rumah Sakit
Carolus mengalami berbagai permasalahan terkait pembiayaan rumah sakit.
Kompleksitas permasalahan  tersebut
disebabkan adanya waste yang
berdampak pada kuantitas dan kualitas pelayanan yang diberikan kepada
pelanggan. Data lain hasil audit pelaporan yang dilakukan tim keselamatan
pasien pada triwulan ke tiga tahun 2017 didapatkan bahwa kejadian terkait
keselamatan pasien mengalami peningkatan diantaranya kesalahan prosedur klinik
31%, kejadian jatuh sebanyak 26,2%, medical error 26,2%. Berdasarkan laporan
Tim Keselamatan Pasien, didapatkan insiden keselamatan pasien yang terjadi saat
pergantian dinas pada tahun 2016 mencapai 4 kejadian terkait dengan pengobatan.
Sedangkan  pada bulan Januari sampai
dengan September 2017 insiden keselamatan pasien terkait handover mencapai 6 kasus dengan 5 kejadian kesalahan pemberian
obat  dan 1 kesalahan terkait pemeriksaan
laboratorium.

Hal ini merupakan kesenjangan dalam
memberikan perawatan yang menjamin keselamatan pasien. Sasaran keselamatan
pasien adalah syarat yang ditetapkan oleh Komisi Akreditasi Rumah Sakit untuk
semua rumah sakit yang mengacu kepada Nine life safing Patient Safety Solution
dari WHO Patient Safety (2007).

Data
hasil observasi dan pengamatan peneliti terkait dimensi kecepatan pelayanan
ditinjau dari kegiatan handover pagi
hari pada perawat bulan Oktober 2017 dari 7 unit perawatan Medikal Bedah, Rumah
Sakit St Carolus Jakarta didapatkan hasil bahwa adanya waste/pemborosan waktu
pelaporan karena sistem laporan yang tidak terstruktur dan mengalami banyak
hambatan. Hambatan dalam handover
antara lain 100% adanya interupsi, 85% lingkungan tidak kondusif, 85 % laporan
tidak terstruktur, 85% keterbatasan data, dan 30% jumlah perawat tidak memadai.
Hambatan lain terlaksananya handover
yang efektif antara lain berkaitan dengan kompetensi yang kurang baik dari
pemberi informasi maupun penerima informasi. Karena tingkat pendidikan, usia
dan pengalaman yang kurang dalam melakukan handover.

     Menurut Nursalam (2008)serah terima
adalah suatu cara dalam menyampaikan sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan
keadaan klien. Serah terima adalah waktu dimana terjadi perpindahan atau
transfer tanggungjawab tentang pasien dari perawat yang satu ke perawat yang
lain. Tujuan serah terima  adalah
menyediakan waktu, informasi yang akurat tentang rencana perawatan pasien,
terapi, kondisi terbaru, dan perubahan yang akan terjadi dan antisipasinya.

     Hasil
wawancara tidak terstruktur dengan perawat di unit perawatan diketahui bahwa
sosialisasi tentang Lean Manajemen di
Rumah Sakit St Carolus sudah dilakukan sejak tahun 2014 oleh tim yang telah
mendapatkan pelatihan tentang Lean manajemen
di perusahan Toyota. Sosialisasi yang dilakukan adalah berupa road showtim Lean manajemen ke unit unit perawatan di RS St. Carolus. Namun Road show tersebut kurang efektif
dirasakan oleh karyawan unit perawatan karena beberapa kendala pada saat
pelaksanaannya yang menyebabkan sebagian besar perawat tidak tersosialisasi.

      Lean manajemen menurut Graban (2012) dalam
bukunya berjudul Lean Hospital Improving
quality, patient safety and employee mendefinisikan lean adalah kumpulan
konsep, alat dan prinsip yang digunakan untuk membuat dan memberikan pelayanan
yang bernilai dan berfokus kepada pelanggan dengan menggunakan sumberdaya yang sedikit
mungkin dan memaksimalkan penggunaan pengetahuan serta ketrampilan seseorang.

Berdasarkan
latar belakang permasalahan yang ada di RS Carolus dan beberapa literatur yang
mendukung, maka rumusan masalah penelitian yaitu bagaimana Pengaruh pelatihan lean manajemen terhadap kemampuan lean thinking dan efektifitas handover perawat dalam meningkatkan budaya
keselamatan pasien di Rumah Sakit St Carolus, Jakarta ?